Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
don't give in to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibo el Mohsinin,
hua Khalikhone hua Razikhone whahoa ala kolli sheiin khadir
Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Mohsinin,
he is our creator, he is our sustainer and he is the one who has power over all.
Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
don't give in to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibo el Mohsinin,
hua Khalikhone hua Razikhone whahoa ala kolli sheiin khadir
Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Mohsinin,
he is our creator, he is a sustainer and he is the one who has power over all.
Sabtu, 13 Juli 2013
TIPS WIRAUSAHA
TIPS WIRAUSAHA
1.
Pisahkan uang usaha dan uang untuk hidup
2.
Modal usaha dibagi menjadi lima. Tidak seluruhnya
dipakai.
3.
Tips Mandiri:
·
Ora Tuku
(Tidak Membeli)
·
Ora Utang (Tidak
Meminjam)
·
Gawe dhewe
(Membuat Sendiri)
4.
TIGA M:
·
Mulai dari
diri sendiri
·
Mulai dari
hal yang kecil
·
Mulai dari
saat ini
5.
Pembagian keuntungan:
·
10 % untuk
sosial
·
40 % untuk
hidup
·
50 % untuk
pengembangan investasi
6.
Berani memulai: jangan takut.
7.
Modal adalah diri sendiri, bukan uang.
PERTANIAN BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP
PERTANIAN
BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP
Tanggapan
Terhadap Tantangan Globalisasi
Oleh :
Soenarto
Notosoedarmo
Arus
globalisasi sudah tidak dapat ditahan lagi untuk memasuki segala sudut
kehidupan, baik secara lambat atau cepat. Tampaknya kerusakan lingkungan global
pun berimbas ke lingkungan hidup kita sehari-hari. Bagaimanapun juga kita di
bidang pertanian berusaha untuk sadar akan ancaman tsb, hingga dampak negatif
dari globalisasi dikurangi. Lingkungan petani tidak lepas dari pengaruh
globalisasi, begitu pula produk yang dihasilkan dan dipasarkan petani. Petani
perlu bertindak hati-hati agar produknya diterima pasar secara kontinyu.
Memanfaatkan Keanekaragaman Hayati
Salah satu karunia Tuhan adalah kayanya
tanah air akan keanekaragaman hayati dalam arti luas, bukan hanya flora dan
fauna. Istimewanya lagi adalah kekayaan tsb, tidak menimbulkan kebosanan, tidak
seperti karya manusia. Jadi, penanaman monokultur (tanaman sejenis) dalam area
yang sangat luas, secara tidak langsung menyia-nyiakan kekayaaan yang ada.
Usaha bertani model pekarangan adalah contoh bertani yaang berorientasi
keanekaragaman. Penghasilan petani ini relatif kontinyu, berkenaan dengan musim
panen yang berbeda-beda, berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti sayuran,
buah, jamu, bahan bangunan, tertopang oleh pekarangannya. Dalam usaha membangun
pekarangan, seleksi jenis yang ditanam masih dapat dioptimalkan. Optimalisasi
penggunaan jenis tanaman tidak selalu berarti semua jenis yang ditanam bernilai
ekonomis. Deretan tanaman ekonomis mungkin perlu diselingi deretan tanaman yang
berperan sebagai pupuk, pengusir hama, penjaga kelembaban, dsb. Kadangkala
perpaduannya begitu erat agar tanaman utamanya tumbuh baik, misalnya cendana
yang perlu ditemani lamtoro atau sengon. Dengan kekayaan jenis tumbuhan yang
tinggi, ada peluang untuk memilih cukup bebas. Akhirnya, berbagai fungsi
seperti ekonomis dan ekologis tertopang.
Bertani dengan mengusahakan lahan yang
beranekaragam flora, menjadi seragam tanamannya, tidak akan kontinyu
keuntungannya. Keuntungan yang diperoleh hanya berjangka pendek, kemudian
kerusakan oleh hama dan penyakit akan mengancam. Keuntungan yang berupa
efisiensi di berbagai bidang dalam usaha monokultur merupakan ancaman
globalisasi yang perlu dicermati. Perilaku petani untuk menanam jenis yang
sama, misalnya harga di pasaran tinggi, sering dilakukan. Selain resiko harga
rendah karena produk di pasar melimpah, tanaman monokultur ini kena resiko
serangan hama dan penyakit secara total. Bukankah keadaan ini kemudian
menguntungkan pihak lain, misalnya produsen pestisida ?
Karunia keanekaragaman tsb, diatas
sebenarnya juga membuka peluang sumber-sumber sifat-sifat unggul di banyak
bidang, seperti ketahanan terhadap hama penyakit, kaya vitamin, warna bunga,
masa reproduksi. Keanakaragaman tsb, juga berarti kekayaan sifat (plasma
nutfah) yang ada pada setiap jenis tumbuhan. Berdasar kekayaan inilah dengan
pengetahuan bioteknologi (rekayasa genetika) dapat diramu tumbuhan yang
memiliki kumpulan sifat unggul yang diinginkan. Kegiatan ini sudah manpu
dilakukan oleh pakar Indonesia. Berkaitan dengan penganekaragaman, petani
mempunyai andil besar, baik pengembangan maupun pelestariannya.
Sebenarnya upaya penganekaragaman
tanaman pangan misalnya telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Dengan demikian
tidak ada ketergantungan pangan pada padi. Berbagai macam umbi-umbian dan
biji-bijian perlu diusahakan lagi oleh petani, di samping menanamkan lagi
budaya makan non-beras. Upaya melestarikan jenis sebenarnya tidak selalu yang
terkait dengan adanya manfaat secara langsung. Beberapa jenis mungkin
manfaatnya baru diketahui secara besar-besaran beberapa tahun kemudian.
Misalnya tanaman pace Morinda citrifolia, dahulu tidak diperhatikan,
tetapi kini punya nilai ekonomis tinggi. Tampaknya semua ciptaan Tuhan perlu
dilestarikan, sementara upaya pemanfaatannya perlu terus dicari.
Bertani ramah lingkungan
Akhir-akhir
ini standar ramah lingkungan mulai dilaksanakan. Produk-produk pertanian yang
sampai ke pasar internasional perlu mengantongi keterangan tidak merusak
lingkungan, selain tidak merugika konsumennya. Oleh karena itu, petani dalam
budidaya tanamannya tidak dapat gegabah asal produknya melimpah ruah.
Seperti kita ketahui, langit ciptaan
Tuhan adalah pelindung semua mahluk. Tetapi dalam perjalanan waktu hidup umat
manusia kini sudah tidak senyaman dahulu. Efek gas rumah kaca dan suhu bumi
semakin panas serta iklim yang sudah sulit dimengerti menjadi ancaman global,
yang tampaknya menjadi semakin nyata dan serangan penyakit, atau musim hujan
dan kemarau yang tidak lagi dapat diketahui. Akhirnya, kegagalan panen
berkepanjangan ada di hadapan mereka.
Sebagai petani perorangan tentu tidak
dapat mengurangi secara berarti timbulnya pengaruh itu, tetapi setidak-tidaknya
ada kesadaran untuk tidak bertindak yang semakin merusak. Pemupukan tidak hanya
mengejar pertumbuhan tanaman yang cepat serta produk berlebihan, tetapi
pemupukan yang berimbang dan jumlah secukupnya akan baik bagi tanaman,
sekaligus keadaan tanah. Apabila tanah rusak, beaya pengolahan nantinya semakin
mahal dan timbul akibat jelek pada tanaman. Begitu pula pemakaian obat yang
berlebihan, selain bernilai mahal juga dapat mengakibatkan hama jadi kebal,
hewan bukan sasaran sirna, bahkan pemangsa hama mati. Langkah-langkah tsb,
merupakan pemberian peluang kepada lingkungan biotik dan abiotik untuk tetap
berada di samping manusia.
Prinsip pengolahan lahan dan pemanfaatan
air hendaknya keadaan setempat. Tanah digarap dengan mengingat ketahanannya
terhadap faktor luar lainnya, misal curah hujan yang tinggi. Penggarapannya
tidak hanya bertujuan agar panen berhasil baik, tetapi pemanfaatan tanah
kentang yang tidak memperhatikan pembuatan teras. Bertanam kentang di dataran
rendah tampaknya perlu dicoba, begitu pula untuk tanaman-tanaman sayuran
semusim lainnya. Bertanam tanaman keras juga ikut menjaga cadangan air,
sekaligus mencegah kerusakan tanah.
Tanpa disadari, kegiatan petani dengan
bertanam sudah memberi sumbangan oksigen yang penting bagi kehidupan banyak
mahluk, terutama manusia. Oleh karena itu, tindakan membiarkan lahan terbuka
dari vegetasi, adalah tercela. Naungan vegetasinya masih dapat dimanfaatkan
untuk tanaman yang cocok di keteduhan. Hasilnya, tutupan vegetasi
bertingkat-tingkat (stratifikasi) dari tanaman yang punya potensi macam-macam.
Perilaku berorientasi lingkungan
Memperoleh
hasil usaha yang maksimal adalah tujuan dari setiap petani dalam mengelola
tanah dan tanamannya. Tetapi perlu diingat bahwa usaha pertanian merupakan
kegiatan hidup yang sangat erat dengan lingkungan alam. Sebab, dalam sejarah
perkembangannya manusia mulai memasuki interaksi biotik-biotik yang terjadi di
alam bebas, kemudian petani memanipulasinya sejauh tidak mengganggu alam.
Keadaan ini ternyata telah berhasil menopang manusia hidup sampai saat ini.
Akhir-akhir ini kebutuhan hasil pertanian semakin meluas pemanfaatannya,
sementara kemampuan pengetahuan untuk menggali potensi yang dimiliki tanaman
dan tanah belum selesai, sehingga terjadi berbagai ketimpangan.
Di tengah situasi seperti itu petani
berusaha memenuhi tuntutan tsb, dengan cara untuk bertindak berlebihan. Pupuk,
pertisida, pengolahan tanah dilakukan dengan dosis tinggi, frekwensi pemakaian
yang besar, tanpa mengetahui secara mendalam akibat buruknya di kemudian hari.
Pupuk dan pestisida dicampur melewati takaran, dengan pengertian makin banyak
makin baik berhasil, hanyalah berjangka pendek. Musim-musim berikutnya berbagai
bencana mulai berdatangan, seperti gagal panen, hama mengamuk, dan tanah sulit
diolah.
Rupanya
perlu diingat petani, bahwa lingkungan pertanian, terutama tanaman, tanah, dan
air mempunyai keterbatasan untuk menopang hasil yang akan dipanen. Oleh karena
itu, mencapai hasil optimum harus dirasa cukup. Seperti prinsip pembangunan
berkelanjutan, batas optimum hasil inilah yang harus ditingkatkan, bukannya
tujuan maksimal. Dalam pada keadaan optimum berbagai faktor yang mendukung
diperoleh produk berada dalam keadaan seimbang berkelanjutan.
Dalam era globalisasi, berbagai
keinginan atau pengaruh dari luar sampai kepada petani biasanya mengajak untuk
meningkatkan produk pertanian baik kualitas maupun kuantitas.Bibit-bibit hasil
rekayasa genetika sudah banyak diintroduksi ke Indonesia. Apakah bibit-bibit
itu sudah diuji kelayakannya ditanam di lokasi tertentu bukan lagi kewenangan
petani. Petani harus mengelola tanaman dengan mengikuti satu paket cara yang
tidak dapat dirubah-rubah semau sendiri. Ini mengingatkan kita akan masuknya
program Revolusi Hijau di tahun 60-an, dengan segala dampak positif negatifnya.
Karena bibit rekayasa genetika adalah karya manusia yang sangat menyentuh
faktor yang diturunkan (gen), maka petani adalah pelaku terdepan yang
menghadapi dampaknya. Kiranya perlu diwaspadai bahwa sarana dan prasarana dari
luar sering mempunyai muatan politik, ekonomi dan sebagainya yang berkesinambungan.
Misalnya masuk bibit jenis baru dan unggul berbuntut dengan tersingkir, bahkan
punahnya varitas-varitas tanaman lokal.
Sikap menghadapi bahan yang menjadi
pencemar lingkungan hampir tidak mendapat perhatian. Pada era globalisasi ini
plastik dan berbagai bahan kimia sintetis yang asing bagi lingkungan tampaknya
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Bahan tersebut ada yang sangat
sulit hancur di alam, sehingga kalau masuk ke tanah malahan menghambat
pertumbuhan akar dan kehidupan mahluk hidup dalam tanah. Kalau bahan ini
dibakar, maka akan berubah bentuk dan mengeluarkan bau/gas yang mudah
menimbulkan kanker (sifat karsinogenik). Adapun bahan-bahan kimia pestisida
yang tidak mudah terurai di alam akan mengganggu kehidupan dalam tanah. Kalau
terserap ke jaringan tanaman, maka ada resiko masuk ke bagian tanaman yang
dikonsumsi. Dalam pasar global kandungan bahan tersebut yang melewati batas
ketentuan akan tidak laku. Di sini konsumen telah sadar akan bahaya yang akan
ditimbulkan. Perilaku hati-hati dengan bahan-bahan kimia seperti tersebut di
atas perlu dihayati. Petani harus sadar bahwa tubuhnya akan sering
terpapar/terkontak baik di kulit ataupun saluran pernafasan. Ini berarti
petanilah yang paling rawan terhadap paparan bahan-bahan beracun. Seringkali
akibat keracunan, misalnya logam berat yang terdapat dalam pestisida, tidak
segera diketahui. Selain berhati-hati, sikap menggunakan bahan-bahan di atas
cukup seperlunya. Hendaknya juga menjadi pertimbangan moral, kalau pemakaian
bahan beracun dengan dosis tidak diketahui oleh konsumen dapat menimbulkan
penyakit diwaktu yad. Apakah petani masih bersyukur sementara pemerintah belum
menentukan standar kandungan racun yang terdapat pada sayuran di pasar ?
Judul : MEMBUAT DEKOMPOSER
Tujuan : Peserta dapat memdapatkan mikroorganisme pengurai untuk
membuat kompos.
Bahan :
Air bersih 10 liter, tetes tebu 1 kg, terasi
¼ kg , susu segar 1 liter, buah-buahan (nanas, papaya, dll) 2 buah, bekatul ½
kg, Rumen sapi 2-4 genggam
Alat :
Ember, Literan, Blender, Saringan, Kompor,
Termometer, Panci
Cara Pembuatan
- Buah-buahan dicuci, dikupas dan dihancurkan.
- Terasi dihancurkan ditambah buah-buahan yang sudah dihancurkan, tetes tebu, bekatul dan air, diaduk sampai rata, kemudian direbus sampai mendidih.
- Didinginkan sampai suhu ± 70oC, susu dan rumen dimasukan dan diaduk sampai rata.
- Ditutup rapat dan diperam selama ± 4 hari
- Disaring dan dikemas untuk dan digunakan pembuatan kompos, bokhasi , dll.
Judul : MEMBUAT KOMPOS SUPER
Tujuan : Peserta dapat membuat pupuk organik berkualitas tinggi, bebas
gulma dan penyebab hama dan penyakit
Bahan
Kotoran sapi, kapur, serbuk gergaji, Abu, Air
Alat
Garpu, gelas ukur, sekop, termometer, Bagor /
goni, gembor
Cara pembuatan :
1.
Menyusun
bahan-bahan sebagai berikut :
Kapur
|
Abu
|
Serbuk gergaji
|
Dekomposer
|
Kotoran sapi
|
Kapur
|
Abu
|
Serbuk gergaji
|
Dekomposer
|
Kotoran sapi
|
2.
Mengaduk
/ mencampur dengan cara memotong vertikal dan ditumpuk sampai ketinggian 1,5 m
3.
Setiap
minggu dibalik sampai 5-6 kali
Judul : MEMBUAT FERMENTASI
URINE SAPI (FERINSA)
Tujuan : Peserta dapat memanfaatkan urine sapi untuk pupuk, pestisida,
dan perangsang tumbuh tanaman.
Bahan
–
Urine
sapi 10 ltr
–
Tetes
tebu 1 liter
–
Dekomposer
250 ml
–
Trasi
150 gr
–
Laos 150
gr
–
Kunyit
150 gr
–
Temu
ireng 150 gr
–
Jahe 150
gr
–
Kencur
150 gr
–
Broto
wali 150 gr
- Alat
–
Ember - Saringan
–
Blender - Timbangan
–
Pengaduk
- Literan
Cara pembuatan :
1.
Empon-empon
dan trasi ditumbuk sampai halus kemudian dimasukkan ember .
2.
Dimasukkan
tetes tebu, dikomposer, dan urine sapi
3.
Ditutup
dan diperam selama 21 hari
4.
Setiap 3
hari 1x diaduk
Aplikasi
1 liter fermentasi ini dicampur dengan 40 liter air, disemprotkan pada
tanaman mulai umur 1 minggu selanjutnya diulang 1 minggu sekali
Judul : MEMBUAT PESTISIDA
ORGANIK
Tujuan : Peserta dapat memanfaatkan tanaman yang ada disekitarnya untuk
mengendalikan HPT.
Bahan
Urine sapi 10 liter, Limbah daun gamal, daun
lamtoro masing-masing 3 kg, dekomposer 250 ml, tetes tebu 250 ml, terasi 150 gr
Alat
–
Ember - Literan
–
Pengaduk - Saringan
–
Timbangan
Cara pembuatan :
1.
Membuat
ekstrak daun gamal dan lamtoro
2.
Masukkan
ke ember, ditambah urine sapi, tetes tebu, terasi, dikomposer, diaduk sampai
rata
3.
Ditutup
dan diperam selama 21 hari
4.
Tiap
minggu dibuka dan diaduk
Sabtu, 04 Februari 2012
PEMUPUKAN TANAMAN KELAPA SAWIT
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelapa sawit tergolong dalam famili Palmae. Tanaman kelapa sawit berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa kekapa sawit berasal dari Amerika selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya, kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, bahkan mampu memberikan hasil produksi yang lebih tinggi (Fauzi et al, 2005).
Bagi Indonesia, tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Pada tahun 2003, luas areal kelapa sawit di Indonesia sekitar 5.283.557 ha dengan Crude Palm Oil (CPO)mencapai 10.440.834 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006). Volume dan nilai ekspor CPO di Indonesia meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2003 volume CPO yang diekspor sebesar 6.386.409 ton dengan nilai ekspor US $ 2.454.626.000, dan pada tahun 2004 volume CPO yang diekspor meningkat menjadi 8.661.647 ton dengan nilai ekspor US $ 3.441.776.000 (Direktirat Jenderal Perkebunan, 2006)
B. Tujuan
1. Memberi informasi kepada para pembaca yang berminat dalam bertani kelapa sawit
2. Memberi informasi tentang aspek dan metode pemupukan kelapa sawit.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMUPUKAN TANAMAN KELAPA SAWIT
Tujuan dari pemupukan pada tanaman belum menghasilkan (TBM) adalah untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif. Sedangkan pemupukan pada tanaman menghasilkan (TM) diarahkan untuk produksi buah. Pemberian pupuk dilakukan dua kali setahun, yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Pemupukan dilakukan dengan menyebarkan pupuk secara merata di dalam piringan.
A. PERANAN UNSUR HARA
Peranan Unsur Hara
1. Nitrogen
a. Penyusunan protein, klorofil dan berperanan terhadap fotosintesa
b. Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan.
c. Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, White Stripe dan berkurangnya buah jadi.
d. Penyebab defisiensi Nitrogen : Terhambatnya mineralisasi Nitrogen, aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, pemupukan Nitrogen tidak efektif.
e. Upaya : Aplikasi secara merata di piringan,Tambah Urea pada tanaman kelapa sawit, aplikasi Nitrogen pada kondisi tanah lembab, kendalikan gulma.
2. Pospor
a. Penyusun ADP/ATP, memperkuat batang dan merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah Kekurangan P sulit dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing.
b. Indikasi kekurangan P : Daun alang-alang berwarna ungu, LCC sulit tumbuh dengan bintil akar yang sedikit.
c. Penyebab defisiensi P : P tanah rendah ( <>
3. Kalium
a. Aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan ukuran tandan. b. Kekurangan K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan mati. c. Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti Ganoderma. d. Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun. e. Penyebab kekurangan K : K di dalam tanah rendah, kurangnya pupuk K, kemasaman tanah tinggi dengan kemampuan tukar kation rendah. f. Upaya : Aplikasi K yang cukup, aplikasi tandan kelapa sawit, perbaiki kemampuan tukar kation tanah dan aplikasi pupuk K pada pinggir piringan.
4. Magnesium
a. Penyusun klorofil, dan berperanan dalam respirasi tanaman, maupun pengaktifan enzim. b. Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering. c. Penyebab defisiensi Mg : Rendahnya Mg didalam tanah, kurangnya aplikasi Mg, ketidak seimbangan Mg dengan kation lain, curah hujan tinggi ( > 3.500 mm/tahun ), tekstur pasir dengan top soil tipis.
d. Upaya : Rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan.
5. Tembaga
a. Pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman.
b. Kekurangan Cu menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis hijau pucat - kekuningan muncul ditengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang diantarajaringan klorosis. Daun pendek, kuning pucat kemudian mati.
c. Penyebab defisiensi Cu : Rendahnya Cu didalam tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi Mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
d. Upaya : Perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
6. Boron
a. Meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
b. Kekurangan Boron menyebabkan ujung daun tidak normal, rapuh dan berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata.
c. Penyebab defisiensi Boron : Rendahnya B tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.
d. Upaya : Aplikasi 0,1 - 0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang
d. Upaya : Rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan.
5. Tembaga
a. Pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman.
b. Kekurangan Cu menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis hijau pucat - kekuningan muncul ditengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang diantarajaringan klorosis. Daun pendek, kuning pucat kemudian mati.
c. Penyebab defisiensi Cu : Rendahnya Cu didalam tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi Mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
d. Upaya : Perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
6. Boron
a. Meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
b. Kekurangan Boron menyebabkan ujung daun tidak normal, rapuh dan berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata.
c. Penyebab defisiensi Boron : Rendahnya B tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.
d. Upaya : Aplikasi 0,1 - 0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang
B. JENIS DAN SIFAT PUPUK
Sumber Hara1. Tanah2. Residu tanaman : Pelepah, Tandan Kelapa Sawit, Abu janjang, Limbah cair dan kacangan penutup tanah.3. Pupuk An-Organik : Tunggal, Campur, Majemuk, Majemuk khususPupuk An-Organik
1. Pupuk tunggal : Mengandung satu hara utama, tidak terlalu mahal per kg hara, mahal dibiaya kerja, mudah diberikan sesuai rekomendasi
2. Pupuk Campur : Campuran beberapa pupuk tunggal secara manual, sekali aplikasi, tidak semua pupuk dapat dicampur, keseragaman campuran beragam, sulit untuk diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
3. Pupuk Majemuk : Satu formulasi mengandung beberapa hara utama, harga per kg hara mahal, sekali aplikasi, mudah disimpan, biaya aplikasi murah, sulit diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
4. Pupuk Majemuk Khusus : Pupuk majemuk yang dibuat secara khusus, seperti dalam bentuk tablet atau pelet. Harga per satuan hara lebih mahal dibandingkan pupuk lainnya, efektivitas masih perlu diuji.
Sifat PupukSifat pupuk sangat beragam sehingga pemilihan pupuk hendaknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang telah ada.
1. Pupuk tunggal : Mengandung satu hara utama, tidak terlalu mahal per kg hara, mahal dibiaya kerja, mudah diberikan sesuai rekomendasi
2. Pupuk Campur : Campuran beberapa pupuk tunggal secara manual, sekali aplikasi, tidak semua pupuk dapat dicampur, keseragaman campuran beragam, sulit untuk diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
3. Pupuk Majemuk : Satu formulasi mengandung beberapa hara utama, harga per kg hara mahal, sekali aplikasi, mudah disimpan, biaya aplikasi murah, sulit diterapkan untuk tanaman menghasilkan.
4. Pupuk Majemuk Khusus : Pupuk majemuk yang dibuat secara khusus, seperti dalam bentuk tablet atau pelet. Harga per satuan hara lebih mahal dibandingkan pupuk lainnya, efektivitas masih perlu diuji.
Sifat PupukSifat pupuk sangat beragam sehingga pemilihan pupuk hendaknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang telah ada.
C. PEMUPUKAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN
a. Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.
b. Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.
c. Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 Cm.
d. Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.
e. Boron ditebarkan diketiak pelepah daun
f. ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.
g. Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.
h. Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.
i. Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.
b. Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.
c. Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 Cm.
d. Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.
e. Boron ditebarkan diketiak pelepah daun
f. ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.
g. Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.
h. Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.
i. Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.
D. PEMUPUKAN TANAMAN MENGHASILKAN
a. Sasaran pemupukan : 4 T ( Tepat jenis, dosis, waktu dan metode)
b. Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman.
c. Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan.Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan ( TM ) Pada Tanah Gambut :Kelompok Umur (Tahun) Dosis Pupuk (kg/pohon/thn)Urea RP MOP(KCl) Dolomit Jumlah3 – 8 2,00 1,75 1,50 1,50 6,759 – 13 2,50 2,75 2,25 2,00 9,5014 – 20 1,50 2,25 2,00 2,00 8,0021 – 25 1,50 1,50 1,25 1,50 5,75Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan (T M ) Pada Tanah Mineral :Kelompok Umur (Tahun) Dosis Pupuk (kg/pohon/thn)Urea SP-36 MOP(KCl) Kieserite Jumlah3 – 8 2,00 1,50 1,50 1,00 6,009 – 13 2,75 2,25 2,25 1,50 8,7514 – 20 2,50 2,00 2,00 1,50 7,7521 – 25 1,75 1,25 1,25 1,00 5,25E. UNSUR HARA YANG DIAMBIL OLEH TANAMANJumlah Unsur Hara yang diangkut oleh tanaman Kelapa Sawit dari dalam tanah per Ha/tahun.Komponen Jumlah unsure Hara (kg/ha/thn)N P K Mg CaPertumbuhan Vegetatif 40,9 3,1 55,7 11,5 13,8Pelepah Daun yang ditunas 67,2 8,9 86,2 22,4 61,6Produksi TBS (25 ton/ha) 73,2 11,6 93,4 20,8 19,5Bungan Jantan 11,2 24 16,1 6,6 4,4Jumlah 192,5 47,6 251,4 61,3 99,3Sumber : Siahaan et.al (1990)Jumlah Pupuk yang diangkut oleh Tanaman Kelapa Sawit per Ha/tahunKomponen Jumlah unsure Hara (kg/ha/thn)Urea SP36 KCl Kieserite DolomitPertumbuhan Vegetatif 88,9 19,7 354 70,7 86,8Pelepah Daun yang ditunas 146,1 56,6 548 137,7 169Produksi TBS (25 ton/ha) 159,1 73,8 594 127,9 156,9Bungan Jantan 24,4 152,7 102 40,6 49,8Jumlah 418,5 302,8 1.599 376,9 462,5Dihitung berdasarkan data jumlah hara oleh Siahaan et.al (1990)
F. WAKTU DAN FREKWENSI PEMUPUKANWaktu Pemupukan• Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan.• Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.• Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.• Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.• Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.Frekwensi Pemupukan• Pemupukan dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur - kondisi tanaman.• Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.• Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.
b. Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman.
c. Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan.Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan ( TM ) Pada Tanah Gambut :Kelompok Umur (Tahun) Dosis Pupuk (kg/pohon/thn)Urea RP MOP(KCl) Dolomit Jumlah3 – 8 2,00 1,75 1,50 1,50 6,759 – 13 2,50 2,75 2,25 2,00 9,5014 – 20 1,50 2,25 2,00 2,00 8,0021 – 25 1,50 1,50 1,25 1,50 5,75Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan (T M ) Pada Tanah Mineral :Kelompok Umur (Tahun) Dosis Pupuk (kg/pohon/thn)Urea SP-36 MOP(KCl) Kieserite Jumlah3 – 8 2,00 1,50 1,50 1,00 6,009 – 13 2,75 2,25 2,25 1,50 8,7514 – 20 2,50 2,00 2,00 1,50 7,7521 – 25 1,75 1,25 1,25 1,00 5,25E. UNSUR HARA YANG DIAMBIL OLEH TANAMANJumlah Unsur Hara yang diangkut oleh tanaman Kelapa Sawit dari dalam tanah per Ha/tahun.Komponen Jumlah unsure Hara (kg/ha/thn)N P K Mg CaPertumbuhan Vegetatif 40,9 3,1 55,7 11,5 13,8Pelepah Daun yang ditunas 67,2 8,9 86,2 22,4 61,6Produksi TBS (25 ton/ha) 73,2 11,6 93,4 20,8 19,5Bungan Jantan 11,2 24 16,1 6,6 4,4Jumlah 192,5 47,6 251,4 61,3 99,3Sumber : Siahaan et.al (1990)Jumlah Pupuk yang diangkut oleh Tanaman Kelapa Sawit per Ha/tahunKomponen Jumlah unsure Hara (kg/ha/thn)Urea SP36 KCl Kieserite DolomitPertumbuhan Vegetatif 88,9 19,7 354 70,7 86,8Pelepah Daun yang ditunas 146,1 56,6 548 137,7 169Produksi TBS (25 ton/ha) 159,1 73,8 594 127,9 156,9Bungan Jantan 24,4 152,7 102 40,6 49,8Jumlah 418,5 302,8 1.599 376,9 462,5Dihitung berdasarkan data jumlah hara oleh Siahaan et.al (1990)
F. WAKTU DAN FREKWENSI PEMUPUKANWaktu Pemupukan• Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan.• Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.• Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.• Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.• Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.Frekwensi Pemupukan• Pemupukan dilakukan 2 - 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur - kondisi tanaman.• Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.• Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)